Wishing Tree
Duh, kenapa tidak nyangkut juga, sih? Rae menghela napasnya dalam-dalam di tengah jeda lompatannya. Sejak awal tadi ia mulai melompat-lompat, mungkin sudah hampir lima menit berlalu, dan kertas harapannya sama sekali belum terkaitkan juga. Huh. Tapi boleh juga lah, siapa tahu berkat lompat-lompatnya ini, dirinya akan semakin cepat tinggi mengingat dirinya sampai saat ini baru mencapai angka 155 cm. Ukuran normal untuk anak sebayanya di Jepang, tapi tidak di keluarganya. Ia tak mau bertingi 155 cm hingga ia lulus Hogwarts nanti. Bisa-bisa ia menjadi penerus keluarga paling cebol dalam sejarah keluarga Hartnett. Err— tidak, terima kasih. Ia tak mau tekanan batinnya bertambah satu. Cukup dengan apa yang selalu ia rasakan selama ini.
“Apa yang kau mau gantungkan di pohon? Kertas?”
Seseorang tiba-tiba menarik kertas yang sedang ia coba untuk digantungkan di wishing tree dari arah belakang. “Aaa~.. Kertasku!!” seru Rae sembari melompat-lompat, berusaha meraih kertas yang kini ada di genggaman anak laki-laki itu. Uhh.. Siapa sih itu? Rae mendongakkan wajahnya mencoba untuk melihat siapakah orang yang mengambil kertas permintaannya. Mata Rae agak membulat ketika mendapati sosok Kiyoshi berada di belakangnya dan sedang berusaha membuka kertas permohonannya.
“Aaaa~~… Yamete Kiyoshi-kun!!”
Wajah Rae sontak memerah padam sembari terus berusaha untuk menggapai kertas di tangan Kiyoshi. Bagaimana kalau Kiyoshi membacanya? Ia pasti malu sekali isi hatinya diketahui. Semoga aku bisa menjadi orang yang berharga baginya, eh? Ah… Rae jujur lupa apa yang ia tuliskan di kertas itu tadi. Tapi yang pasti, dirinya memang menuliskan permohonan untuk Kiyoshi. Walau ia tak menyebutkan siapa orang yang ia maksud di kertas itu, sih. Tapi tetap saja! Sekali lagi, bagai tomat ranum, wajah Rae kembali memerah. Auu… Adakah cara untuk menyetop Kiyoshi? Rae berpikir keras sembari menatap Kiyoshi lekat-lekat. Dan sebuah alasan muncul ke otaknya…
“Kiyoshi-kun, kalau permohonanku tak terkabul karena kau membukanya sebelum Santa, kau harus tanggung jawab!!” ujarnya sembari memasang wajah nyaris menangis. Well, ia memang tak mau menangis sama sekali, tapi mungkin Kiyoshi akan berhenti membuka kertas itu. Yah, walau, mungkin ada baiknya juga kalau Kiyoshi tahu isi hatinya. Haha.